Home / Uncategorized / Penyuluhan Hukum “Aspek Hukum Perjanjian Perkawinan dan Putusnya Perkawinan” dengan Paralegal LAHA di Desa Cibiru Wetan

Penyuluhan Hukum “Aspek Hukum Perjanjian Perkawinan dan Putusnya Perkawinan” dengan Paralegal LAHA di Desa Cibiru Wetan

Perkawinan adalah suatu ikatan yang sakral diantara seorang laki-laki dan seorang perempuan dengan tujuan untuk membentuk keluarga. Hubungan perkawinan membuat mereka baru dapat dikatakan sah berkeluarga. Ikatan tersebut mengakibatkan perubahan kedudukan antara lelaki dan perempuan yang menjalin hubungan perkawinan, dimana lelaki menjadi suami dan perempuan menjadi istri. Selain perubahan kedudukan, akibat hukum lain yang ditimbulkan dari perkawinan adalah timbulnya hak dan kewajiban terhadap mereka sebagai keluarga. Mulai dari kewajiban suami untuk menafkahi istri secara lahir maupun batin, kewajiban alimentasi pada anak, menyatunya harta antara suami dengan istri dan lain sebagainya.

Hak dan kewajiban sebagai akibat dari perkawinan tidak hanya diatur dalam peraturan perundang-undangan, dapat pula dibuat dalam bentuk perjanjian perkawinan. Namun dalam kehidupan bermasyarakat sendiri, perjanjian perkawinan kurang mendapatkan perhatian yang serius bahkan masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui mengenai perjanjian perkawinan. Ada juga yang menganggap perjanjian perkawinan ini adalah hal yang tabu.

Di sisi lain perjanjian perkawinan memiliki beberapa manfaat. Perjanjian perkawinan pada dasarnya dibuat untuk tindakan pencegahan terhadap beberapa aspek dalam perkawinan, seperti pengaturan mengenai harta bersama, utang, anak, maupun hal lainnya yang tidak bertentangan dengan batas-batas hukum keagamaan serta kesusilaan.  Selain itu, perjanjian perkawinan merupakan kesempatan bagi suami dan istri untuk saling terbuka atas keinginan-keinginan yang hendak diri mereka sepakati.

Permasalahan lain terkait hukum perkawinan adalah mengenai putusnya perkawinan. Putusnya perkawinan dapat disebabkan oleh kematian, perceraian dan keputusan pengadilan. Salah satu fenomena terkait keluarga yang terjadi dalam masyarakat dan menjadi perhatian adalah mengenai perceraian. Perceraian dapat terjadi pada setiap kalangan masyarakat. Mulai dari pekerja profesi, pengusaha, artis, hingga orang biasa saja pun dapat dilanda perceraian.

Seperti yang terdapat dalam surat kabar Pikiran Rakyat Kamis, 6 Juli 2017, dikatakan bahwa angka perceraian di Kabupaten Indramayu cukup tinggi. Berdasarkan data Pengadilan Agama Indmramayu, sepanjang Januari hingga Juni 2017 tercatat terdapat 9.049 permohonan perceraian dengan 3.791 perkara diantaranya dikabulkan. Bahkan hingga hari Selasa, 4 Juli 2017 bisa mencapai 86 pengajuan. Hubungan Masyarakat Pengadilan Agama Indramayu menuturkan bahwa biasanya Pengadilan Agama Indramayu menerima 700-800 pengajuan dalam sebulan.

Tingginya tingkat perceraian ini disebabkan oleh beberapa faktor. Beberapa diantaranya adalah dari soal pekerjaan, pasangan yang ditinggalkan melakukan perselingkuhan dengan orang lain. Selain perselingkuhan, menurut Kepala Dinas Sosial Kabupaten Cirebon Maryono, faktor penyebab lainnya ekonomi, pendidikan, kultur atau budaya dan juga teknologi. Sebagai tambahan faktor seksual, anak, kekerasan, komunikasi, serta kurangnya kesiapan dari pihak terkait secara fisik, mental maupun komitmenpun kadang menjadi dasar tingginya tingkat perceraian. Banyaknya fenomena yang terjadi dalam masyarakat inilah yang menjadi dasar mengapa perlunya masyarakat memahami Aspek Hukum Perjanjian Perkawinan dan Putusnya Perkawinan. Maka pada 25 Agustus 2017, LBH “Pengayoman” UNPAR mengadakan kegiatan penyuluhan hukum di Desa Cibiru Wetan dengan judul “Aspek Hukum Perjanjian Perkawinan dan Putusnya Perkawinan”.

 

546475